Jangan takut melangkah, jangan sembunyi dari kenyataan, sabar dan hadapi. Karena hujan yang ditunggu, insya Allah, akan datang. Bersama kesukaran ada kemudahan. Sekali lagi, bersama kesukaran ada kemudahan.
Anugrah hidup kadang tampil melalui rute
yang tidak diinginkan. Ia tidak datang diiringi dengan tiupan seruling merdu.
Tidak diantar oleh dayang-dayang nan rupawan. Tidak disegarkan dengan wewangian
harum.
Saat
itulah, tidak sedikit manusia yang akhirnya dipermainkan keadaan. Persis
seperti anak katak yang takut cuma karena langit hitam, angin yang bertiup
kencang, dan kilatan petir yang menyilaukan. Padahal, itulah sebenarnya
tanda-tanda hujan.
"Bu,
apa kita akan binasa. Kenapa langit tiba-tiba gelap?" ucap anak katak
sambil merangkul erat lengan induknya. Sang ibu menyambut rangkulan itu dengan
belaian lembut.
"Anakku," ucap sang induk
kemudian. "Itu bukan pertanda kebinasaan kita. Justru, itu tanda
baik." jelas induk katak sambil terus membelai. Dan anak katak itu pun
mulai tenang.
Namun, ketenangan itu tak berlangsung lama.
Tiba-tiba angin bertiup kencang. Daun dan tangkai kering yang berserakan mulai
berterbangan. Pepohonan meliuk-liuk dipermainkan angin. Lagi-lagi, suatu
pemandangan menakutkan buat si katak kecil. "Ibu, itu apa lagi? Apa itu
yang kita tunggu-tunggu?" tanya si anak katak sambil bersembunyi di balik
tubuh induknya.
"Anakku.
Itu cuma angin," ucap sang induk tak terpengaruh keadaan. "Itu juga
pertanda kalau yang kita tunggu pasti datang!" tambahnya begitu
menenangkan. Dan anak katak itu pun mulai tenang. Ia mulai menikmati tiupan
angin kencang yang tampak menakutkan.
"Blarrr!!!"
suara petir menyambar-nyambar. Kilatan cahaya putih pun kian menjadikan suasana
begitu menakutkan. Kali ini, si anak katak tak lagi bisa bilang apa-apa. Ia
bukan saja merangkul dan sembunyi di balik tubuh induknya. Tapi juga gemetar.
"Buuu, aku sangat takut. Takut sekali!" ucapnya sambil terus
memejamkan mata.
"Sabar,
anakku!" ucapnya sambil terus membelai. "Itu cuma petir. Itu tanda
ketiga kalau yang kita tunggu tak lama lagi datang! Keluarlah. Pandangi
tanda-tanda yang tampak menakutkan itu. Bersyukurlah, karena hujan tak lama
lagi datang," ungkap sang induk katak begitu tenang.
Anak
katak itu mulai keluar dari balik tubuh induknya. Ia mencoba mendongak,
memandangi langit yang hitam, angin yang meliuk-liukkan dahan, dan sambaran
petir yang begitu menyilaukan. Tiba-tiba, ia berteriak kencang, "Ibu,
hujan datang. Hujan datang! Horeeee!
Semua kehidupan, beserta perjalanannya
kadang menuntut kita untuk terkondisi dalam kesabaran, atau terkondisi dalam
kesenangan. tetapi hakikatnya kehidupan ini bila dijadikan tujuan, maka kecenderungannya
ialah melalaikan kehidupan itu sebagai sarana saja untuk mengumpulkan bekal
akhirat.
“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan
senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya
kehidupan, kalau mereka mengetahui.” (QS Al-Ankabut ayat 64)
Sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu
’anhu pernah berkata: ”Bilamana manusia menemui ajalnya, maka saat itulah dia
bangun dari tidurnya”. Sungguh tepat ungkapan beliau ini. Sebab kelak di
akhirat nanti manusia akan menyadari betapa menipunya pengalaman hidupnya
sewaktu di dunia. Baik sewaktu di dunia ia
menikmati kesenangan maupun menjalani penderitaan. Kesenangan dunia
sungguh menipu. Penderitaan duniapun menipu.
Kita adalah hamba Allah, yang harus tunduk
didalam naungan agama-Nya. Karena disanalah sebuah pegangan kita untuk
menjalankan tugas sebagai khalifah di muka bumi ini.
Saat
manusia berada di alam akhirat barulah ia akan menyadari betapa sejatinya
kehidupan di sana. Kesenangannya hakiki dan penderitaannya sejati. Surga
bukanlah khayalan dan sekedar dongeng orang-orang tua di masa lalu. Begitu pula
dengan neraka, ia bukan suatu mitos atau sekedar cerita-ceirta orang dahulu
kala. Surga dan neraka adalah perkara hakiki, saudaraku. Sehingga Rasulullah
shollallahu ’alaih wa sallam menggambarkan dengan deskripsi yang sangat kontras
dan ekstrim mengenai betapa berbedanya tabiat pengalaman hidup di dunia yang
menipu dengan kehidupan sejati akhirat. Perhatikanlah baik-baik hadits di bawah
ini:
“Pada hari kiamat didatangkan orang yang
paling nikmat hidupnya sewaktu di dunia dari penghuni neraka. Lalu ia
dicelupkan ke dalam neraka sejenak. Kemudian ia ditanya: ”Hai anak Adam,
pernahkah kamu melihat suatu kebaikan, pernahkah kamu merasakan suatu
kenikmatan?” Maka ia menjawab: ”Tidak, demi Allah, ya Rabb.” Dan didatangkan
orang yang paling menderita sewaktu hidup di dunia dari penghuni surga. Lalu ia
dicelupkan ke dalam surga sejenak. Kemudian ditanya: ”Hai anak Adam, pernahkah
kamu melihat suatu kesulitan, pernahkah kamu merasakan suatu kesengsaraan?”
Maka ia menjawab: ”Tidak, demi Allah, ya Rabb. Aku tidak pernah merasakan
kesulitan apapun dan aku tidak pernah melihat kesengsaraan apapun.” (HR Muslim
5018)
Mengapa orang pertama ketika Allah tanya
menjawab bahwa ia tidak pernah melihat suatu kebaikan serta merasakan suatu
kenikmatan, padahal ia adalah orang yang paling nikmat hidupnya sewaktu di
dunia dibandingkan segenap manusia lainnya?
Jawabannya: karena Allah telah paksa dia
merasakan derita sejati neraka –sejenak saja- cukup untuk membuat ingatannya
akan segala kenikmatan palsu yang pernah ia alami sewaktu di dunia terhapus
begitu saja dari ingatannya.
Sebaliknya, mengapa orang kedua ketika
Allah tanya menjawab bahwa ia tidak pernah melihat suatu kesulitan atau
merasakan suatu kesengsaraan, padahal ia orang yang paling susah hidupnya
sewaktu di dunia dibandingkan segenap manusia lainnya?
Jawabannya: karena Allah telah izinkan dia
merasakan kesenangan hakiki surga –sejenak saja- cukup untuk membuat ingatannya
akan segala penderitaan palsu yang pernah ia alami sewaktu di dunia terhapus
begitu saja dari ingatannya. Subhaanallah wa laa haula wa laa quwwata illa
billah...!!!
Pantas bila Allah gambarkan bahwa saat
sudah dihadapkan dengan azab neraka orang-orang kafir bakal berharap mereka
dapat menebus diri mereka dengan sebanyak apapun yang diperlukan, andai mereka
sanggup. Tentunya pada saat itu mereka tidak sanggup dan tidak berdaya.
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir
sekiranya mereka mempunyai apa yang di bumi ini seluruhnya dan mempunyai yang
sebanyak itu (pula) untuk menebus diri mereka dengan itu dari azab hari kiamat,
niscaya (tebusan itu) tidak akan diterima dari mereka, dan mereka beroleh azab
yang pedih.” (QS Al-Maaidah ayat 36)

0 komentar:
Posting Komentar